🟧 Sejarah Desa

Sejarah Desa

1. Asal Usul Nama Desa Bakungan

Nama Bakungan menurut beberapa cerita sejarah (yang tidak terdokumentasikan) bahwa pada masa penjajahan Belanda, wilayah kita pada saat itu banyak ditanami Bunga Bakung. Khususnya di wilayah tengah Desa, yang saat ini disebut Dukuh Bakungan, wilayah tersebut dulu sering dipakai sebagai tempat transit atau tempat singgah sementara dokar/andong (kereta yang ditarik kuda) dan dijadikan sebagai pusat pemerintahan Desa yang saat itu dipimpin oleh seorang Raden yang berasal dari keraton Kepatihan Surakarta.

2. Sejarah Perkembangan Pemerintahan Desa Bakungan

Desa Bakungan dahulu sebelum kantor desa berada di Wilayah Dukuh Jetis Desa Bakungan, pusat pemerintahan Bakungan berada di Dukuh Bakungan, pada masa itu Desa Bakungan dipimpin oleh seorang Raden Ngabei yang diutus oleh Keraton Surakarta Hadiningrat.

Untuk pusat Pemerintahan Desa yang berpusat di Dk Bakungan saat ini bangunan berupa Rumah Joglo besar layaknya sebuah keratin Jawa telah rubuh dan hanya tinggal sisa sisa puing belaka, namun Gapura yang dahulu dijadikan sebagai gapura keratin masih berdiri kokoh dan dapat disaksikan hingga kini.

3. Cerita Sejarah Unik Kulit Kyai Jimat (Mbah Jimat) Desa Bakungan

Di Desa Bakungan ada sebuah tradisi unik yang mungkin tidak ada di daerah lain, yaitu Kirab Pusaka berupa Kulit manusia yang konon katanya Moksa dan meninggalkan kulit sahaja.

Kirab Pusaka ini dilakukan setiap Bulan Suro pada setiap malam Jum’at dalam bulan Suro tersebut, kirab dilakukan pada jam 12 malam dengan diiringi beberapa orang yang berjalan kaki memutari sebagian Desa yang rombongan tersebut melakukan tapa bisu atau tidak boleh bicara selama prosesi berlangsung.

Kyai Jimat dipercaya masyarakat sebagai pelindung Desa yang konon pada jaman Perang tak ada satupun peluru ataupun bom yang jatuh di Desa Bakungan berkat adanya kyai jimat tersebut, hingga banyak sekali warga dari luar Desa yang mengungsi di Desa Bakungan dan bahkan masih ada peninggalan dari seorang pengungsi yang meninggalkan sebuah lukisan kepada Mbah Mitro yang sekarang sudah tiada sebagai tanda terima kasih karena sudah menerima keluarga beliau untuk mengungsi dan menginap di rumah Mbah Mitro tersebut, dan hingga kini lukisan tersebut yang kini berada di tangan salah satu anak Mbah Mitro telah menjadi saksi bisu betapa amannya Desa Bakungan pada masa perang dahulu hingga dijadikan banyak orang sebagi tempat mengungsi.

Kyai Jimat sendiri konon katanya adalah seorang pertapa yang bertapa di daerah Tlogo Randu Utara Desa Bakungan, dan di akhir hayatnya beliau Moksa dan meninggalkan Kulit sahaja.